PengertianWhatsapp Payment. 6/17/2020 10:02:00 AM faizarteta Teknologi No comments. Facebook resmi meluncurkan WhatsApp Payment fitur layanan pengiriman uang. Layanan WhatsApp Payment ini diluncurkan di Brasil, padahal selama ini Facebook melakukan uji coba layanan ini di India sejak tahun lalu dan sedang menunggu
TagInd1 Ind2 Isi LEADER: 00905cam a2200265 a 4500
OjoDumeh Eling Lan Waspodo OJO DUMEH ELING LAN WAPODO ATAU JANGAN MENTANG-MENTANG INGAT DAN WASPADA. JANGAN MENTANG MENTANG Orang hidup didunia tidak akan lepas dari “ Berputarnya roda kehidupan ”, yang selalu berubah. · Mentang–mentang kaya, kemudian merasa bahwa apa saja dapat dibeli dengan uang.
ojo dumeh eleng lan waspodo merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan@griyaryo5758 @divianaeswari5758 @rizalsyah5758 @lemetchannel5758 @tutorngawur
Karenakalian meminta sendiri.. "yg mengikutiku, baik itu khodam, maupun makhluk astral yang lain, yang ingin ku ketahui wujudnya, saya tidak perlu melihatmu secara langsung, lihatkan lah wujud kalian melalui mimpi saya" coba deh.. NRIMO ING PANDUM, OJO DUMEH, ELING LAN WASPODO
Harusingat tiga (3) prinsip dasar ini jangan sampai lupa.kesehatan mental kita antara lain di teguhkan pada { Ojo Dumeh }; ini dimensi pisikologisnya.keseh
wtvO2hw. Eling lan Waspada ~ Karakter Luhur Bangsa Indonesia Oleh Bapak Imam Sudrajat Arso Soekotjo Amenangi zaman edan, ewuhaya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun , dilalalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada pupuh sinom, dalam serat Kalatida , Ranggawarsito Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun, semune ngaksama,sasamane bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi martatama serat Wedhatama, KGPAA Mangkunegara IV ELING lan WASPODO – KARAKTER LUHUR BANGSA INDONESIA Rahayu. Menyempatkan diri di bulan Ramadhan, mencoba memberanikan diri untuk berbagi info kasih saling asah-asih-asuh, saling gosok ginosok . Sudah 2 orang terakhir iniRomo Sukiman dari Vihara Maha Bodhi Pajang Solo, dan Kadhang David Goh mengingatkan “ itu semua dilaksanakan dengan tansah Eling lan Waspodo “. Apa itu Eling lan waspodo ? , setelah dicoba direnungkan kembali , malah saya tidak mengerti. Maksudnya pasti baik, mengingatkan kembali , berhati – hati dalam sikap ucap, tindak tanduk/perbuatan. Namun ….saya harus ElingSadar ? sama apa, dengan siapa ? , harus waspodo Awas ? akan apa , dengan siapa ?. Kalau mencoba menggali dari pengertian umum sebaiknya ingat selalu akan Tuhan, sabar dan kuat iman menghadapi cobaan Tuhan karena keadaan jaman dan atau keadaan diri manusia, menjalankan perintah Nya dan meninggalkan larangan Nya. Senantiasa mawas diri baik dalam keadaan suka dan duka. Ini dijalani dengan ketaqwaan & kepasrahan dalam beribadah/menjalankan tugas agar selamat dunia akherat Dari pemahaman agama, dengan penghayatan senantiasa “eling lan waspada “ akan menghidupkan janji bathin yang diucapkan minimal 5 X dalam sehari “ Sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, swt “. Tidak “eling lan waspada “ , maka janji bathin ini sekedar janji lahir di bibir saja, sehingga tidak mendapatkan “Jiwa Sholat ” dan menjadi “bukan untuk Allah, tetapi untuk kesenangan, keuntungan hidupku & keluargaku di dunia dan akherat “ Karena sholatnya juga tidak eling lan waspada, maka yang terjadi Sering menyakiti lalu bertobat, banyak menipu segera minta ampun, korupsi lagi mohon maaf lagi. Bersilahturahim-Dzikir-Shodaqoh hanya untuk pamrih mendapatkan pahala dan surgaTidak ksatria untuk bertanggung jawab dengan perbuatan dosanya. Takut neraka tapi selalu dan sering berbuat durhaka kepada Tuhan. à Kata kuncinya Ingat Tuhan .Merujuk nasehat Mangkunegara IV dalam Wedhatama, kurang lebih “Selamanya hanya awas dan ingat. Ingat akan sasmita alam menjadi selamat hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang menjaga kesejahteraan hidup.” à Kata kunci Sasmita Alam. Mengutip ajaran dari paguyuban “Cahya Buwana “ sudah dapat ijin dari Bapa Sarwa D , perihal Ajaran Eling lan Waspodo , sbb Eling atau ingat Ingat berarti manusia yang selalu menyadari keadaannya,diri sendiri, kiri dan kanannya, hidup dan kehidupannya dan kepada Tuhan YME. Memahami benar siapa sejatinya dirinya atau ”Sopo Ingsun “ . Eling berkaitan dengan tindakan yang disebut “manembah”. Selalu eling kepada Tuhan adalah merupakan sumber dari segala sumber..Manusia harus manembah kepada Tuhan YME dan selalu memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat serta tidak akan lagi mengulangi kesalahan dan dosa yang sama serta bertobat. Waspodo atau waspada Manusia yang selalu teliti kepada hidup dan kehidupannya, tahu mana yang boleh dilakukannya menurut aturan Tuhan. Kata kunci Menyadari; Sopo Ingsun; Manembah; Aturan Tuhan. Masih menurut pitutur dari PCB , TRISILA KEJAWEN, Menguak Misteridari OJO DUMEH, ELING ln WASPODO, bahwa Eling lan Waspodo adalah dua kata yang tidak boleh dipisah-pisahkan karena mempunyai daya kekuatan yang besar sekali , alat penangkal yang jitu dalam melawan ke angkara murkaan nafsu duniawi dan keserakahan materiatlistis. Eling, Pitutur saking RMP untuk berbagi rasa egois, memupuk rasa kesatuan. Bagi yan kaya,eling punya rasa asih member kepada yang miskin. Bagi yang pandai eling punya rasa asih mengajar yang yang kuat eling punya tekad asih membela melindungi yang lemah. Eling dalam keadaan senang / jaya/sukses maupun susah/jatuh/gagal. Eling kalau semua yang ada di dunia ini tidak kekal/abadi. Waspada & Eling Perasaan senatiasa awas & sadar Mulat salira terhadap semua bentuk perasaan yang menyenangkan / tidak menyenangkan bagaimana ia timbul dan lenyap di dalam diri kita sendiri, juga aktifitas pikiran hendaknya selalu sadar, apakah pikirannya penuh dengan hawa nafsu atau tidak, menyeleweng atau tidak, sadar dengan semua aktifitas pikiran bagaimana ia timbul dan lenyap. Beberapa kata – kata kunci diatas, bisa ditambahkan lagi; Daya kekuatan; Mulat Salira, Ojo Dumeh; Kasedan Jati; MKG, SPL -SPD; Kesempurnaan sejati wruh hananing urip, putus ing kasidan jati. Pertanyaanya , mungkin Setelah terus direnungkan , dihayati dan dipahami, tetapi kenapa saya KITA? masih belum bisa Eling lan Waspodo . Sering kalau mau jujur didalam setiap ucap, tindakan/perbuatan, bahkan situasi “kesempatan” dimana saya masih bisa berbuat kebaikan dan kebajikan, sering hal itu tidak saya lakukan.lewat kesempatan untuk menolong, demikian sikap tindak tanduk saya sering merugikan orang lain menipu, korupsi, Menambahkan konsep lain, mungkin saya kurang berlatih Gelar waspodo berkiprah di/dengan dunia dan Gulung untuk mendapatkan kekuatan Eling tanpa lupa dari dalam = MIJIL, Atau kurang disiplin dalam laku hidup ?, atau tidak mengolah dengan baik cipto-Karsa-rasa atau tidak bisa manembah Jiwo-Roso. Menyadari dengan penuh kejujuran, semua pelajaran ini baru sebatas pemahaman konsep , puas di lintasan pikiran/kesadaran intelek saja/lingkup ratio/immanen. Belum banyak olah Rasa wruh ing rasa-rasa kang satuhu-rasaning rasa sejati untuk mendapatkan cukup banyak pengalaman langsung dari sumber yang pertama agar dapat kekuatan bisa “Eling lan Waspodo / Bijaksana yang transenden “. = tidak menyakiti dan membunuh makhluk lain; tidak punya rasa dendam, iri, sombong; serakah,tidak menipu, mencuri & punya ILMU KESABARAN agar bisa berterima kasih kepada mereka yang telah / akan menghina-memfitnah-memarahi-mentertawakan saya. Ingat akan pepatah jawa “Biso rumongso lan ora rumongso biso, aja rumong bener dewe / bisa merasa dan bukan merasa bisa, jangan merasa paling benar. Aja Adigang adigung adiguna “. Maka perihal ajaran yang bersifat Mistik/esoteris/makrifat/sastro Jendro/kawruh kasunyatan seperti lakon Urip, Sopo Ingsun Jati diri/diri sejati ,Gusti / Tuhan; MKG dan SPD, sudah sewajarnya dan sepantasnya diri ini hati ini bicara “ Saya berpikir, semua pelajaran hidup/Urip saya mengetahui ternyata saya tidak tahu “ . Karena saya berpikir itu/ini “tidak tahu “ , saya bisa lebih leluasa untuk bebas memilih dan menjalani; dan merdeka untuk tidak harus menerima atau menolak.. UNTUK BISA TERUS KREATIF BELAJAR langsung kepada kehidupan/realitas hidup. Tidak mau percaya begitu saja apa tulisan dan kata pemahaman sendiri, cara sendiri, dan untuk diri sendiri,belajar sendiri “bagaimana Hidup dan kehidupanku sendiri “ ternyata indah dan asyiikk . Namun tetap dalam kerangka lintasan “eling lan waspodo “ , tetap menghargai saudara saya yang masih suka dengan kon-form-itas dari kebenaran umum yang diseragamkan/dipaksakan dengan iming-iming pahala, surga & siksaan,,neraka “ . dimana ajaran ini banyak didapat dualism dan conflict subject- obyect / keterpisahan. Menghormati . memaklumi mereka yang masih percaya “belajar “ dengan konsep-konsep dari luar “konon katanya” kepercayaan, agama, dst . “ Ilir-ilir tandure wis sumilir , tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar. Bocah angon penekna blimbing kuwi, lunyu – lunyu ya penekna kanggo masuh dodotira. Dodotiro kumintir bedhah ing pinggir, dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore, mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane. Sunan Giri Pendalaman – penghayatan “Mulat Sariro, tansah Eling kalawan Waspada “ Maka hasil perenungan selanjutnya à Usia dan Jasmani semakin tua, penyakit & kematian raga di depan mata , mampukah saya menghindarinya ?.; Sedikit waktu masih tersisa “seberapa banyak lagi, seberapa besar lagi kebutuhan hidup di dunia ini. Apa yang akan dibawa setelah kematian raga dan apa yang saya miliki ? serta saya mau kemana ?. Bangunlah jiwanya ,bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Eling lan Waspada , Ya kiranya tidak berlebihan saya menyatakan …Inilah KARAKTER Bangsa Indonesia. Sifat, jiwa, kekuatan KARAKTER = bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, sifat, tabiat, temperamen, watak bangsa Indonesia saripatinya ada di “Eling lan Waspada“ Dalam nafas Sifat-Jiwa-kekuatan Eling lan Waspada, ada juga beberapa karakter – Perilaku Budi pekerti yang luhur untuk berbuat kebaikan dan kebajikan kepada Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan Negara. – Sikap mau menerima legowo dan mengalah, jujur, serta tepa saliro – Rasa Ke Tuhanan dan Kemanusiaan, ditengahnya ada jiwa gotong royong – hidup rukun serta mempunyai kesadaran hak & kewajiban yang sama membangun masyarakat dan negeri NusantaraIndonesia tanpa membedakan/damai dalam perbedaan Suku, Agama, Ras, Aliran kepercayaan. – Kekuatan, menjiwai dan memberi nafas kehidupan manusia rakyat Indonesia belajar terus membangun menjadi pribadi manusia yang utuh, lengkap harmonisselaras-serasi-seimbang “ Jiwa/bathiniah/rohaniah & Raga/badan/jasmani “ .Pribadi manusia yang ber Panca Sila-is, dimana Panca Sila merupakan Jati Diri bangsa Indonesia. Mengakhiri , tulisan uneg-uneg/curhat “eling lan waspodo “. Perkenankan mengutip suatu syair kuno tidak diketahui penulisnya – dari nafas ZEN kurang lebih sbb “ Suatu warisan transmisi special di luar kitab-kitab suci. Tak bergantung pada surat/aksara dan kata-kata. Langsung menunjuk pada jiwa mengarah kepada pikiran manusia. Memandang kodrat diri mengerti hakikat dirinya sendiri dan menyadari pencapaian PENCERAHAN SEMPURNA “ Bulan penuh tobat = belajar melupakan diri/ padam segala keinginan. Kedamaian dalam kesepian, ketersendirian, kekurangan/kemiskinan . Mencoba melihat kehidupan sebagaimana apa adanya saja , tidak menghakimi, menilai berlebihan itu salah/benar, ini baik / tidak baik, tidak peduli ditinggalkan kawan dan saudara. Tidak peduli Tuhan memikirkan & membantu saya atau tidak. tetap semangat berkarya dengan sedikit pamrih = tidak mengharapkan pahala, tidak memikirkan surga .Berjalan sendirian menapaki jalan sendiri mencari teman sejati. Aku nunggang Roso ngadep Urip tumuju Suwung Life originates from the Lord, and will return to Sang Hyang Taya. Dan berbahagialah mereka yang “Eling lan Waspodo” …yang mau dan sudah menyadari bahwa ada yang lebih luhur, lebih mulia dari pada harta benda dan segala kemewahan serta kenikmatan dunia. Selamat berjuang saudaraku. Dengan laku tansah “Eling lan Waspada “, selalu berhati-hati belajar-bekerja menjalankan kewajiban di dunia, sehingga pelajaran “hidup & kehidupan; Tuhan & Alam semesta “ tidak sekedar di pahami sebatas immanen dalam benak otak & pikiran tetapi mencoba lebih luas penghayatan ke dalam akan hal-hal yang transenden di luar pikiran manusia, tak terbatas, tak terhingga akan keberadaan DIA yang MAHA SEMPURNA, MUTLAK HUKUMNYA SISTEM ILAHIAH YANG SEMPURNA TIDAK PERNAH BERUBAH, TIDAK BERKURANG, TIDAK BERTAMBAH, MUTLAK KASIHNYA -MUTLAK ADILNYA. Mohon maaf kalau berbeda pendapat. OLALA – Ada tanpa syarat/adanya mutlak yang bersyarat/terkondisikan = tidak mutlak , salam estafet. Rahayu. Kata Kunci buat PM à Empu Prapanca/ NegaraKertagama/Panca Sila/Hindu + Empu Tantular/Sutasoma/Bhinneka Tunggal Ika/Budha = Ajaran Leluhur – karakter bangsa nusantara damai dalam perbedaan – hidup rukun berdampingan saling membangun Negri Nusantara. Bangkitlah bangsaku,Jayalah Negriku. Mari membantu “Evolusi “ saudara kita “ Semoga semua makhluk hidup terlihat maupun tidak terlihat; di dalam tubuh maupun diluar tubuh; di dalam bumi maupun diatas bumi; di alam dunia maupun di alam halus – bebas dari penderitaan, bebas dari rasa permusuhan, bebas dari dendam/kebencian, bebas dari kegelapan. Semoga mereka hidup rukun-tentram-damai-sejahtera dan bahagia. – Semoga selalu diterangi & mendapat cahaya Tuhan yang abadi = Samatha Bhavana “. Sluman, slumun slamet. Imam Sudrajat, Petarukan 21 Agustus 2011
– Ungkapan eling lan waspada’ sadar dan waspada bagi orang Jawa umumnya sudah menjadi kearifan yang disebarkan secara lisan pada pada banyak generasi. Kesadaran dalam budaya timur, tidak hanya di Jawa, biasa diyakini sebagai hal yang sangat penting dalam aktualisasi diri seseorang, dalam memaknai eksistensi diri, yakni diri yang bermanfaat dalam atau membaca ungkapan, ini umumnya orang Jawa akan teringat pada seorang tokoh pujangga dan konteks hidupnya yang membuat ungkapan ini bermakna tidak hanya pada masa dituliskan. Dalam serat kalatida, pujangga Kasunanan Surakarta Rangga Warsita yang saat muda bernama Bagoes Burhan 1802-1873 menulis Amenangi jaman edan, awuh aya ing pambudi. Melu edan nora tahan yen tan melu anglakoni, soya kaduman melik, kaliren wekasanipun. O ilallah, kersa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan mencoba terjemahkan dalam bahas Indonesia sebagai berikut;Mengalami jaman edan, sangat sulit untuk menegakkan akal budi. Ikut edan tidak tahan, tapi bila tidak ikut, hilang kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan materi, bisa berakhir dengan kemiskinan, terpinggir. Kembali pada Allah, seberuntung-beruntungnya mereka yang lupa diri, lebih beruntung mereka yang senantiasa sadar dan mudah bagi saya menemukan padanan kata edan’ di sini. Yang jelas, istilah edan’ ini menyatu sebagai idiom dengan kata jaman’; jaman edan, mengandung pengertian kondisi umum yang berbeda maknanya bila menyebut edan’ untuk pribadi. Karena tentang kondisi umum ini, ke-edan-an di sini berbeda dengan istilah kegilaan’ nya Foucoult, sebagai narasi peminggiran pada ekspresi pilihan individual yang dianggap nyeleneh karena berbeda dari perilaku yang dianggap normal dari tatanan sosial yang ada. Edannya pribadi belum tentu berpengaruh pada orang lain. Sementara yang disebut oleh Rangga Warsita adalah jaman edan, kondisi umum, yang sangat berpengaruh pada kehidupan Warsita menghubungkan jaman edan dengan melemahnya penggunaan atau hilangnya peran akal budi ewuh aya ing pambudi dalam penguasaan -sumber daya materi. Hilangnya penggunaan akal budi yang berlasung secara masif ini, membuat umumnya orang tidak berdaya, tak dapat berbuat lain kecuali perilaku memburu penguasaan sumber daya materi ini sedemikian masif sehingga orang tidak lagi mempertanyakan, melainkan menganggapnya sebagai kewajaran, tidak lagi peka pada relasi-relasi dalam kehidupan karena terpaku pada penguasaan materi orang menganggap ungkapan jaman edan’ ini mengacu jaman masa ketika Rangga Warsita hidup yang kala itu, di mana keraton tunduk pada pada kekuasaan kolonial Belanda dan diwarnai oleh gaya hidup foya-foya dan penuh intrik. Sebagaia orang lainnya menganggap jaman edan’ itu suatu masa yang akan datang. Tapi buat saya, jaman edan bisa kapan Warsita memberi alat pembacaan, yaitu ketika masyarakat secara masif sudah sulit menegakkan akal budi karena arus besar narasi yang membiasakan penghambaan pada penguasaan materi dengan cara apa pun. Tata krama, nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dan norma sebagai hasil usaha akal budi untuk menjagai tatanan hidup bersama, sudah hanyut oleh arus narasi besar kondisi umum yang disebut jaman edan ini, meski tindakan mengikuti arus narasi besar sulit dihindari, menurut Sang Pujangga adalah tindakan yang tidak beruntung, karena yang beruntung justru pada hal lain yang tidak terkait langsung dengan penguasaan materi; beruntung adalah ketika seseorang tidak dikuasai oleh keadaan di luarnya, melainkan mempertahankan kondisi mental yang eling lan waspada. Sadar pada tanggung jawab hidup yang disematkan oleh Allah dan mewaspadai kelemahan waktu lalu saya menulis tentang “Korstluiting dan Pengendalian diri”, saya merasa apa yang saya tulis ini masih terkait. Tidak harus langsung tentang tindakan berupa ujaran atau sikap, tetapi sangat mungkin seseorang mengalami kehilangan pengendalian diri dalam cara pikir – yang pada akhirnya berhubungan dengan situasi tidak dapat bersikap lain kecuali mengikuti dalam konteks saat ini, jaman edan bukan sesuatu yang berwujud perilaku berfoya-foya yang mesum secara rendahan atau murung karena intrik yang kasar, tetapi sesuatu yang halus dan bahkan terkesan elegan. Justru arus narasi besar yang halus’ ini membuat banyak orang kehilangan kediriannya karena masuk dalam arus yang menjadikannya obyek untuk menyokong pemilik kepentingan pengejar kekuasaan politik, ekonomi, gaya hidup konsumtif, bukankah dilakukan dengan halus dan elegan namun sangat membius? Meski halus dan terkesan elegan’, dampak edan pada perusakan lingkungan hidup maupun kesenjangan sosial saat ini tetap sama atau bahkan lebih merusak. Orang menggunakan akal budi dan berfikir kritis di tengah arus ini –sebagaimana ditulis Rangga Warsita — akan terlindas’ suaranya dianggap suara yang tak menarik dan pilihan sikap kritis akan memposisikannya sebagai yang terpinggirkan secara ekonomi maupun saat ini jual beli gelar atau jabatan, prilaku konsumtif dan pemujaan pada idola sampai pada tindakan tak masuk akal, pergunjingan yang bertransformasi menjadi beragam upaya framing pada pribadi, kelompok atau institusi dalam media sosial yang memutarbalikkan kebenaran untuk suatu kekuasaan atau orang banyak tidak lagi peka pada perilaku koruptif, banyak yang tidak berdaya untuk memprotesnya?Situasi ketika akal budi sulit ditegakkan, inilah jaman edan. Rasa bahasa jawa dalam kata edan’ ini sebagai penggedor kesadaran publik. Akal budi membutuhkan pemilik yang selalu sadar diri untuk mempertahankan kedaulatannya, yang dengan demikian ada cukup energi untuk mempertahankan pikiran kritis, sikap yang merdeka dan mengedepankan nilai-nilai kebaikan untuk hidup kembali menjadi urusan pendidikan, rupanya kematangan seseorang ditandai kemampuan menggapai hal-hal substansial. Sebaliknya ketidakmatangan dalam hal ini umumnya ditandai oleh orientasi, penghambaan yang bersangkutan pada hal-hal yang bersifat instrumental, atau sarana. Apakah dengan demikian untuk konteks saat ini jaman yang edan adalah kondisi sosial yang diwarnai gagal tumbuh kepribadian sehingga yang menjadi orientasi kebanyakan orang adalah hal-hal instrumental, sarana-sarana yang bersifat bila yang menjadi orientasi atau tujuan hidup adalah hal-hal subtansial, kedamaian, cinta, Tuhan, tentu tidak ada perebuatan penguasaan yang menghasilkan peminggiraan, kesenjangan, ketidakadilan dan juga hilangnya perdamaian. []
OlehFajar Rafiki WirasandjayaMalang Pancaroba, 11 Mei 2021 ELING LAN WASPADAFalsafah Jawa banyak mengajarkan tentang kebijaksanaan hidup. Beberapa diantaranya adalah falsafah tentang konsep Eling dan Waspada dalam kasusastran yang ditulis oleh Pujangga besar Jawa dari Kasunanan Surakarta yakni Raden Ngabehi Ronggo Warsito Rangga Warsita dalam serat Kalatida. Secara utuh kalimat tersebut berbunyi sabegja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling klawan waspada, seberuntung-beruntungnya orang yang lalai, lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada. Namun tidak semua orang mengerti secara persis makna dari falsafah Jawa tersebut. Berawal dari realitas tersebut perlulah kiranya ada sedikit uraian agar petuah yang luhur ini mudah dipahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Terlebih lagi hari ini, saat kita hidup di jaman hyper reality yang serba tidak pasti, ketika semesta sedang bergolak banyak musibah juga bencana. Pepeling peringatan tersebut menjadi penting untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Perlahan mari kita kupas satu persatu makna dari Eling lan pertama adalah makna dari kata Eling ꦲꦺꦭꦶꦁEling secara harfiah berarti eling n. èngêt k 1 pikirane pulih kaya sakawit tmr. wong sêmaput, edan lsp; 2 mangêrti manèh marang prakara sing wis lawas; 3 ora lali; 4 ent. ngrumangsani, wêruh marang kaanane dhewe lsp; di-[x]-i ora dilalèkake, dirêmbug dipikir mungguhing kaanane asale lsp di-[x]-ake Poerwadarminta, 1939 Eling secara harfiah bermakna ingat dan ngrumangsani sadar dengan keadaan. Sikap eling ini jika ditinjau lebih jauh meliputi kesadaran tentang dimensi ketuhanan dan dimensi Dimensi KetuhananEling atau ingat berdasar dimensi ketuhanan maksudnya adalah kita memiliki kesadaran conciousness tentang asal usul penciptaan, tujuan penciptaan, tujuan manusia hidup, bagaimana menjalani hidup dan bagaimana manusia menjalani kehidupan setelahnya after life. Singkatnya adalah Tuhan sebagai sangkan paraning dumadi, dari Tuhan semua berasal menuju Tuhan semua berakhir, kehendak Tuhan atas semua dan ciptaan-Nya. Pemahaman ini mengajarkan kita untuk menyadari bahwa tak ada cara untuk menafikkan penyebab adanya diri kita saat ini yakni sang Causa Prima atau Tuhan Maha Esa God. Kesadaran ini akan mendorong manusia untuk selalu manembah kepada Hyang bahwa kita harus menjalani kehidupan fana ini sebagai syarat utama yang akan menentukan kemuliaaan kita kelak di alam kelanggengan after life nanti, alam yang mana akan menjadi tempat tujuan kita ada paraning dumadi. Manembah bukan hanya dalam batas sembah fisik, namun lebih utama mempraktekan sikap manembah tersebut dalam pergaulan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat untuk menggapai ridho Dimensi KemanusiaanDi samping kesadaran spiritual terkait hubungan vertikal terhadap Tuhan/Gusti, eling sebagai peranan dalam relasi manusia yang saling hidup berdampingan sesama makhluk Tuhan juga menjadi keutamaan Eling mring sesama. Eling dalam dimensi kemanusian menganjurkan kita agar selalu instrospeksi diri atau mawas diri sebagai modal utama dalam pergaulan yang menjunjung tinggi perilaku utama lakutama yakni budi pekerti luhur, atau mulat laku kautamaning bebrayan.Eling dalam dimensi kemanusiaan dapat kita wujudkan secara nyata dalam kehidupan sesama manusia harus saling menghormati. Kedua, sesama manusia harus saling menolong. Ketiga, sesama manusia harus saling mengingatkanEling siapa diri kita bertujuan agar jangan sampai kita bersikap sombong atau takabur. Selalu mawas diri atau mulat sarira adalah cara untuk mengenali kelemahan dan kekurangan diri pribadi juga untuk menahan diri self control untuk tidak berbuat yang merugikan orang lain. Sebaliknya selalu berbuat yang menentramkan suasana terhadap sesama manusia. Selagi menghadapi situasi yang tidak mengenakkan hati, dihadapi dengan mulat laku satrianing tanah Jawi yaitu tidak benci jika dicaci, tidak gila jika dipuji, teguh hati, sabar walaupun diterpa nestapa dan akan peran manusia dalam dimensi kemanusiaan akan mendorong kita untuk bisa memahami dan mengerti kebaikan yang telah orang lain lakukan kepada kita niteni kabecikaning liyan. Berusaha ikhlas, berhenti pamrih dan berhenti menghitung-hitung untung rugi, melupakan dan memendam jasa atau kebaikan yang pernah kita perbuat untuk orang lain, sebaliknya kita harus niteni kebaikan yang orang lain pernah lakukan kepada kita. Hutang budi merupakan hutang paling berat. Jika kita kesulitan membalas budi kepada orang yang sama, balasan itu bisa kita teruskan kepada orang-orang lain. Artinya kita melakukan kebaikan yang sama kepada orang lainnya secara estafet, maka kebaikan akan selalu bertebaran. Bertindak tulus ikhlas karena Gusti Yang Maha Kuasa tanpa mengharap pamrih kepada artinya adalah kita sadar akan hal-hal yang bisa menyebabkan diri menjadi hina dan celaka. Kewaspadaan dapat diwujudkan dengan waspada ing lair kewaspadaan terhadap bahaya yang tampak nyata, waspada ing batin kewaspadaan yang hakiki, waspada saka panggada menangkal godaan yang menjerumuskan, waspada tan kena lena lengah sekejap bisa lenyap, dan waspada tan kena keblinger mewaspadai jebakan yang menyesatkan.Hukum yang berlaku disekitar manusia adalah hukum sebab-akibat causalitas. Hukum Kausalitas merupakan hukum keniscayaan bagi alam semesta, dan merupakan fitrah manusia untuk memahaminya bahwa setiap akibat/peristiwa merupakan hasil dari sebuah sebab. Begitu pula dengan kehidupan, setiap perilaku sekecil apapun, perbuatan sekecil apapun akan mendapat pembalasan/perhitungan. Jika menghendaki diperlakukan baik maka berlakulah dengan baik. Waspada Kepada diri PribadiMenghindari juga mewaspadai perbuatan dan perilaku yang negatif penting untuk selalu dilakukan. Perbuatan-perbuatan negatif yang mengakibatkan hina, celaka dan menderita, kita harus menjaga diri, menjaga lisan dan ucapan, sikap dan perbuatan yang berpotensi mencelakai sesama manusia, makhluk lain, dan lingkungan alam semesta. Misalnya perbuatan-perbuatan angkara yang membawa cela seperti menghina, iri, dengki, merugikan orang lain, mencelakai, merusak dan menganiaya terhadap sesama manusia ataupun sesama makhluk terhadap apapun yang bisa menghambat kemuliaan hidup terutama mewaspadai diri pribadi dari perilaku badan dan perilaku batin. Mewaspadai diri pribadi berati kita harus bertempur melawan kekuatan negatif dalam diri, nafsu dan angkara. Yang menebar aura buruk berupa kehendak untuk menangnya sendiri, butuhnya sendiri egois dan benernya sendiri. Adigang adigung adiguna, kita harus mewaspadai diri pribadi dari nafsu mentang-mentang yang memiliki kecenderungan eksploitasi dan penindasan adigang, adigung, adiguna juga nafsu aji mumpung/mentang-mentang ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya nggawe rekasa, tutwuri nyilakani di depan karena berkuasa atau memimpin maka menyalahgunakan kekuasaan, bila di tengah membuat masalah/ menyusahkan, di belakang justru mencelakakan. Waspada dan Cermat Membaca Bahasa AlamWaspada dalam arti cermat membaca bahasa alam hanggayuh kawicaksananing Gusti. Bahasa alam merupakan perlambang apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bencana alam bagaikan perangkap ikan. Hanya ikan-ikan yang selalu eling dan waspada yang akan selamat. Semoga kita selalu dianugerahkan dari sikap eling dan waspada adalah segala pikiran, ucapan, sikap dan perbuatan kita dalam interaksi dengan sesama manusia, seluruh makhluk, dan lingkungan alam selalu dilandasi oleh keluhuran budi pekerti, arif dan kehidupan ini dengan kaidah-kaidah kebaikan dan welas asih seperti tersebut di atas agar senantiasa dilimpahkan rahmat dan kebaikan dari sapa nggawe bakal nganggo, siapa menanam akan memanen, barang siapa menabur angin akan menuai badai. Dalam kondisi alam bergolak, hukum sebab akibat akan mudah terwujud dan menimpa siapapun. Kecuali orang-orang yang selalu eling dan waspada. Karena kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan kepada sesama, kepada semua makhluk, dan lingkungan alam sekitar, akan menjadi pelindung yang menjauhkan dari malapetaka, bahaya, kesialan bagi diri pribadi. Semoga bermanfaat. SourceGesta Bayuadhy. 2015. Eling lan Waspada Yogyakarta. Saufa. ISBN 978-602-255-881-1Poerwadarminta, 1939. Baoesastra Djawa. Batavia WoltersRaden Ngabehi Rangga Warsita Serat Kalatida Tamzi Kompasiana
Presiden Joko Widodo kembali menyoroti krisis yang menghantui dunia, dan meminta Indonesia untuk mewaspadai beberapa krisis yang saat ini terjadi secara global, dari krisis kesehatan karena pandemi Covid-19, hingga perekonomian dunia yang masih belum pulih. Kondisi ini semakin buruk dengan munculnya perang di Ukraina yang menyebabkan krisis pangan, energi, dan itu, Jokowi mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada dalam segala hal. “Kita harus selalu eling lan waspodo, harus ingat dan waspada. Kita harus selalu cermat dalam bertindak, kita harus selalu hati-hati dalam melangkah,” kata Jokowi dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR RI dan Pidato Kenegaraan Presiden, Selasa 16/8.Mantan gubernur DKI Jakarta ini kemudian menegaskan bahwa lima agenda besar bangsa tidak boleh berhenti, meski sedang terjadi krisis global. Agenda tersebut adalah hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam, optimalisasi sumber energi bersih dan ekonomi hijau, serta memperkuat perlindungan hukum, sosial, politik, dan ekonomi rakyat. Selain itu, mendukung UMKM agar naik kelas, dan menjaga keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara."Saya mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersatu padu, mendukung agenda besar bagi pencapaian Indonesia Maju. Dengan komitmen dan kerja keras, dengan inovasi dan kreativitas," tutur eling lan waspodo ini berasal dari petuah ajaran Jawa berupa norma agar memiliki moral baik. Melansir laman Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DPAD Jogjakarta, petuah ini termasuk dalam trisila Kejawen yaitu ojo dumeh, eling, lan pertama, yakni ojo dumeh melarang penganutnya bersifat dumeh. Maksud dumeh adalah suatu keadaan kejiwaan yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu selagi ia berkuasa. “Sedangkan eling lan waspada berarti dalam segala perbuatan dan tindakan, harus selalu ingat dan waspada demi keselamatan,” tulis Center of Excellence di laman DPAD Jogjakarta. Di sisi lain, Jokowi menyebut bahwa Indonesia masuk ke dalam negara yang mampu menghadapi krisis multisektor global. Ada tiga indikator yang disebutkan Jokowi, pertama, Indonesia masuk dalam negara yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19. Ini ditunjukkan dari vaksinasi Covid-19 terbanyak di dunia, dengan jumlah 432 juta dosis vaksin yang sudah diterima rakyat inflasi Indonesia berhasil dipertahankan pada kisaran 4,9%. Angka ini jauh di bawah rata-rata inflasi ASEAN di angka 7%, serta angka inflasi negara maju. Kemudian ketiga, APBN berada pada posisi surplus Rp 106 triliun hingga pertengahan 2022. Pemerintah pun telah memberi subsidi BBM, LPG, dan listrik senilai Rp 502 triliun, agar harga BBM di masyarakat tidak melonjak pertumbuhan ekonomi yang menorehkan hasil positif 5,44% pada kuartal II 2022. Neraca perdagangan pun surplus selama 27 bulan berturut-turut. Bahkan, mencapai Rp 364 triliun pada paruh pertama 2022. “Capaian tersebut patut kita syukuri. Fundamental ekonomi Indonesia tetap sangat baik di tengah perekonomian dunia yang sedang bergolak. Di satu sisi, kita memang harus tetap waspada dan harus tetap hati-hati,” kata Jokowi.
arti ojo dumeh eling lan waspodo